Siapa ? (2)
August 13th, 2007 by 0m4nKESEBELAS, pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Dalam masyarakat
permissif, iklan semacam ini menjadi jembatan komunikasi yang diperlukan.
KEDUABELAS, germo dan pelanggan prostitusi. Apabila hubungan syahwat
suka-sama-suka yang gratis tidak tersedia, hubungan dalam bentuk perjanjian
bayaran merupakan jalan keluarnya. Dalam hal ini prostitusi berfungsi.
KETIGABELAS, dokter dan dukun praktisi aborsi. Akibat tujuh unsur pertama di
atas, kasus perkosaan dan kehamilan di luar pernikahan meningkat drastis. Bikin shock!
Setiap hari dapat kita baca kasus siswa SMP/SMA memperkosa anak SD,
satu-satu atau rame-rame, ketika papi-mami tak ada di rumah dan pembantu
pergi ke pasar berbelanja. Setiap ditanyakan apa sebab dia/mereka
memperkosa, selalu dijawab ‘karena terangsang sesudah menonton VCD/DVD biru
dan ingin mencobakannya.’ Praktisi aborsi gelap menjadi tempat pelarian,
bila kehamilan terjadi.
Seorang peneliti dari sebuah universitas di Jakarta menyebutkan bahwa angka
aborsi di Indonesia 2,2 juta setahunnya Bikin shock! Bikin shock!. Maknanya setiap 15 detik seorang
calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal akibat dari salah satu
atau gabungan ketujuh faktor di atas. Inilah produk akhirnya. Luar biasa
destruksi sosial yang diakibatkannya.
Dalam gemuruh gelombang gerakan syahwat merdeka ini, pornografi dan
pornoaksi menjadi bintang panggungnya,
melalui gemuruh kontroversi pro-kontra RUU APP.
Karena satu-dua-atau beberapa kekurangan dalam RUU itu, yang total kontra
menolaknya, tanpa sadar terbawa dalam gelombang gerakan syahwat merdeka ini.
Tetapi bisa juga dengan sadar memang mau terbawa di dalamnya.
Salah satu kekurangan RUU itu, yang perlu ditambah-sempurnakan adalah
perlindungan bagi anak-cucu kita, jumlahnya 60 juta, terhadap kekerasan
pornografi. Dalam hiruk pikuk di sekitar RUU ini, terlupakan betapa dalam
usia sekecil itu 80% anak-anak 9-12 tahun terpapar pornografi, situs porno
di internet naik lebih sepuluh kali lipat,
lalu 40% anak-anak kita yang lebih dewasa sudah melakukan hubungan seks pra-nikah.
Sementara anak-anak di Amerika Serikat dilindungi oleh 6 Undang-undang, anak-anak kita belum,
karena undang-undangnya belum ada. KUHP yang ada tidak melindungi mereka
karena kunonya. Gelombang Syahwat Merdeka yang menolak total RUU ini berarti
menolak melindungi anak-cucu kita sendiri.
Gerakan tak bernama tak bersosok organisasi ini terkoordinasi bahu-membahu
menumpang gelombang masa reformasi mendestruksi moralitas dan tatanan
sosial. Ideologinya neo-liberalisme, pandangannya materialistik, disokong
kapitalisme jagat raya.
Menguji Rasa Malu Diri Sendiri
Seorang pengarang muda meminta pendapat saya tentang cerita pendeknya yang
dimuat di sebuah media. Dia berkata, "Kalau cerpen saya itu dianggap
pornografis, wah, sedihlah saya." Saya waktu itu belum sempat membacanya.
Tapi saya kirimkan padanya pendapat saya mengenai pornografi. Begini.
Misalkan saya menulis sebuah cerpen. Saya akan mentes, menguji karya saya
itu lewat dua tahap. Pertama, bila tokoh-tokoh di dalam karya saya itu saya
ganti dengan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak atau adik saya; lalu
kedua, karya itu saya bacakan di depan ayah, ibu, mertua, isteri, anak,
kakak, adik, siswa di kelas sekolah, anggota pengajian masjid, jamaah
gereja; kemudian saya tidak merasa malu, tiada dipermalukan, tak canggung,
tak risi, tak muak dan tidak jijik karenanya, maka karya saya itu bukan
karya pornografi.
Tapi kalau ketika saya membacakannya di depan orang-orang itu saya merasa
malu, dipermalukan, tak patut, tak pantas, canggung, risi, muak dan jijik,
maka karya saya itu pornografis.
Hal ini berlaku pula bila karya itu bukan karya saya, ketika saya menilai
karya orang lain. Sebaliknya dipakai tolok ukur yang sama juga, yaitu bila
orang lain menilai karya saya. Setiap pembaca bisa melakukan tes tersebut
dengan cara yang serupa.
Pendekatan saya adalah pengujian rasa malu itu. Rasa malu itu yang kini
luntur dalam warna tekstil kehidupan bangsa kita Senyum simpul , dalam terlalu banyak hal.
Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput artistik, Playboy, menumpang
taufan reformasi dan gelombang liberalisme akhirnya terbit juga di
Indonesia. Majalah ini diam-diam jadi tempat pelatihan awal onani pembaca
Amerika, dan kini, beberapa puluh tahun kemudian, dikalahkan internet,
sehingga jadilah publik pembaca Playboy dan publik langganan situs porno
internet Amerika masturbator terbesar di dunia.
Majalah pabrik pengeruk keuntungan dari kulit tubuh perempuan ini, mencoba menjajakan bentuk
eksploitasi kaum Hawa di negeri kita yang pangsa pasarnya luarbiasa besar
ini. Bila mereka berhasil, maka bakal berderet antri masuk lagi majalah
anti-tekstil di tubuh perempuan dan fundamentalis-syahwat-merdeka seperti
Penthouse, Hustler, Celebrity Skin, Cheri, Swank, Velvet, Cherry Pop, XXX
Teens dan seterusnya.
Untuk mengukur sendiri rasa malu penerbit dan redaktur Playboy Indonesia,
saya sarankan kepada mereka melakukan sebuah percobaan, yaitu mengganti
model 4/5 telanjang majalah itu dengan ibu kandung, ibu mertua, kakak, adik,
isteri dan anak perempuan mereka sendiri.
Saran ini belum berlaku sekarang,
tapi kelak suatu hari ketika Playboy Indonesia keluar perilaku aslinya dalam
masalah ketelanjangan model yang dipotret. Sekarang mereka masih malu-malu
kucing. Sesudah dibuat dalam edisi dummy, promosikan foto-foto itu itu di 10
saluran televisi dan 25 suratkabar. Bagaimana? Berani? Malu atau tidak?
Pendekatan lain yang dapat dipakai juga adalah
menduga-memperkirakan-mengingat akibat yang mungkin terjadi sesudah orang
membaca karya pornografis itu. Sesudah seseorang membaca, katakan cerpen
yang memberi sugesti secara samar-samar terjadinya hubungan kelamin, apalagi
kalau dengan jelas mendeskripsikan adegannya, apakah dengan kata-kata indah
yang dianggap sastrawi atau kalimat-kalimat brutal, maka pembaca akan
terangsang.
Sesudah terangsang yang paling penakut akan onani dan yang paling nekat akan memperkosa.
Memperkosa perempuan dewasa tidak mudah, karena itu anak kecil
jadi sasaran. Perkosaan banyak terjadi terhadap anak-anak kecil masih bau
susu bubuk belum haid yang di rumah sendirian karena papi-mami pergi kerja,
pembantu pergi ke pasar, jam 9-10 pagi.
Anak-anak tanggung pemerkosa itu, ketika diinterogasi dan ditanya kenapa,
umumnya bilang karena sesudah menonton VCD porno mereka terangsang ingin
mencoba sendiri. Merayu orang dewasa takut, mendekati perempuan-bayaran
tidak ada uang. Kalau diteliti lebih jauh kasus yang sangat banyak ini
(peneliti yang rajin akan bisa mendapat S-3 lewat tumpukan guntingan koran),
mungkin saja anak itu juga pernah membaca cerita pendek, puisi, novel atau
komik cabul.
Akibat selanjutnya, merebak-meluaslah aborsi, prostitusi, penularan penyakit
kelamin gonorrhoea, syphilis, HIV-AIDS, yang meruyak di kota-kota besar
Indonesia berbarengan dengan akibat penggunaan alkohol dan narkoba yang tak
kalah destruktifnya.
Akibat Sosial Ini Tak Pernah Difikirkan Penulis
Semua rangkaian musibah sosial ini tidak pernah difikirkan oleh penulis
cerpen-puisi-novelis erotis yang umumnya asyik berdandan dengan dirinya
sendiri,
mabuk posisi selebriti, ke sana disanjung ke sini dipuji, tidak
pernah bersedia merenungkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh tulisannya.
Sejumlah cerpen dan novel pasca reformasi sudah dikatakan orang mendekati
VCD/DVD porno tertulis. Maukah mereka membayangkan, bahwa sesudah sebuah
cerpen atau novel dengan rangsangan syahwat terbit, maka beberapa ratus atau
ribu pembaca yang terangsang itu akan mencontoh melakukan apa yang
disebutkan dalam alinea-alinea di atas tadi, dengan segala rentetan
kemungkinan yang bisa terjadi selanjutnya?
Destruksi sosial yang dilakukan penulis cerpen-novel syahwat itu,
beradik-kakak dengan destruksi yang dilakukan
produsen-pengedar-pembajak-pengecer VCD/DVD porno, beredar (diperkirakan)
sebanyak 20 juta keping, yang telah meruyak di masyarakat kita, masyarakat
konsumen pornografi terbesar dan termurah di dunia. Dulu harganya Rp
30.000sekeping, kini Rp 3.000, sama murahnya dengan 3 batang rokok kretek.
Mengisap rokok kretek 15 menit sama biayanya dengan memiliki dan menonton sekeping VCD/DVD syahwat
sepanjang 6o menit itu. Bersama dengan produsen alkohol, narkoba dan
nikotin,
mereka tidak sadar telah menjadi unsur penting pengukuhan
masyarakat permissif-addiktif serba-boleh-apa-saja-genjot, yang dengan
bersemangat melabrak apa yang mereka anggap tabu selama ini, berpartisipasi
meluluh-lantakkan moralitas anak bangsa. Ngemil makanan
AWAS BAHAYA PORNOGRAFI….
http://web.1asphost.com/assalamaagym/Tragis_betul_nasib_para_koruptor.chm
bersambung…..