Siapa ? (3)

Perzinaan yang Hakekatnya Pencurian adalah Ciri Sastra Selangkang

Akhirnya sesudah mendapatkan korannya, saya membaca cerpen karya penulis

yang disebut di atas. Dalam segi teknik penulisan, cerpen itu lancar

dibaca.  Dalam segi isi sederhana saja, dan secara klise sering ditulis

pengarang Indonesia yang pertama kali pergi ke luar negeri, yaitu pertemuan

seorang laki-laki di negeri asing dengan perempuan asing negeri itu.

Kedua-duanya kesepian. Si laki-laki Indonesia lupa isteri di kampung. Di

akhir cerita mereka berpelukan dan berciuman. Begitu saja.

Dalam interaksi yang kelihatan iseng itu, cerpenis tidak menyatakan sikap

yang jelas terhadap hubungan kedua orang itu. Akan ke mana hubungan itu

berlanjut, juga tak eksplisit. Apakah akan sampai pada hubungan pernikahan

atau perzinaan, kabur adanya.

Perzinaan adalah sebuah pencurian. Yang melakukan zina, mencuri hak orang

lain, yaitu hak penggunaan alat kelamin orang lain itu secara tidak sah.

Pezina melakukan intervensi terhadap ruang privat alat kelamin yang dizinai.

Dia tak punya hak untuk itu. Yang dizinai bersekongkol dengan yang melakukan

penetrasi, dia juga tak punya hak mengizinkannya. Pemerkosa adalah perampok

penggunaan alat kelamin orang yang diperkosa. Penggunaan alat kelamin

seseorang diatur dalam lembaga pernikahan yang suci adanya.

Para pengarang yang terang-terangan tidak setuju pada lembaga pernikahan,

dan/atau melakukan hubungan kelamin semaunya, yang tokoh-tokoh dalam

karyanya diberi peran syahwat merdeka, adalah rombongan pencuri bersuluh

sinar rembulan dan matahari. Mereka maling tersamar.

Mereka celakanya, tidak

merasa jadi maling, karena (herannya) ada propagandis sastra menghadiahi

mereka glorifikasi,

dan penerbit menyediakan gratifikasi. Propagandis dan

penerbit sastra semacam ini, dalam istilah kriminologi, berkomplot dengan

maling.

Hal ini berlaku bukan saja untuk karya (yang dianggap) sastra, tapi juga

untuk bacaan turisme, rujukan tempat hiburan malam, dan direktori semacam

itu. Buku petunjuk yang begitu langsung tak langsung menunjukkan cara

berzina Baca Koran, lengkap dengan nama dan alamat tempat berkumpulnya alat-alat

kelamin yang dapat dicuri haknya dengan cara membayar tunai atau dengan

kartu kredit gesekan.

Sastra selangkang adalah sastra yang asyik dengan berbagai masalah wilayah

selangkang dan sekitarnya. Kalau di Malaysia pengarang-pengarang yang

mencabul-cabulkan karya kebanyakan pria,

maka di Indonesia pengarang sastra selangkang mayoritas perempuan. 

Beberapa di antaranya mungkin memang

nymphomania atau gila syahwat, hingga ada kritikus sastra sampai hati

menyebutnya "vagina yang haus sperma". Mestinya ini sudah menjadi kasus

psikiatri yang baik disigi  , tentang kemungkinannya jadi epidemi, dan harus

dikasihani.

Bila dua abad yang lalu sejumlah perempuan Aceh, Jawa dan Sulawesi Selatan

naik takhta sebagai penguasa tertinggi kerajaan, Sultanah atau Ratu dengan

kenegarawanan dan reputasi terpuji,

maka di abad 21 ini sejumlah perempuan

Indonesia mencari dan memburu tepuk tangan kelompok permissif dan addiktif

sebagai penulis sastra selangkang,

yang aromanya jauh dari wangi , menyiarkan

bau amis-bacin kelamin tersendiri, yang bagi mereka parfum sehari-hari.

Dengan Ringan Nama Tuhan Dipermainkan

Di tahun 1971-1972, ketika saya jadi penyair tamu di Iowa Writing Program,

Universitas Iowa, di benua itu sedang heboh-hebohnya gelombang gerakan

perempuan. Kini, 34-an tahun kemudian, arus riaknya sampai ke Indonesia.

Kaum feminis Amerika waktu itu sedang gencar-gencarnya mengumumkan

pembebasan kaum perempuan, terutama liberasi kopulasi, kebebasan

berkelamin,m di koran, majalah, buku dan televisi.

Menyaksikan penampilan para maling hak penggunaan alat kelamin orang lain

itu di layar kaca, yang cengengesan dan mringas-mringis seperti Gloria

Steinem dan semacamnya, banyak orang mual dan jijik karenanya.

Mereka tidak peduli terhadap epidemi penyakit kelamin HIV-AIDS yang meruyak menyebar

seantero Amerika Serikat waktu itu, menimpa baik orang laki-laki maupun

perempuan, hetero dan homoseksual, akibat kebebasan yang bablas itu.

Di setasiun kereta api bawah tanah New York, seorang laki-laki korban

HIV-AIDS menadahkan topi mengemis. Belum pernah saya melihat kerangka

manusia berbalut kulit tanpa daging dan lemak sekurus dia itu. Sinar matanya

kosong, suaranya parau.

Kematian banyak anggota kelompok ini, terutama di kalangan seniman di tahun

1970-an, tulis seorang esais, bagaikan kematian di medan perang Vietnam.

Sebuah orkestra simfoni di New York, anggota-anggotanya bergiliran mati

saban minggu karena kejangkitan HIV-AIDS dan narkoba, akibat kebebasan bablas itu.

Para pembebas kaum perempuan itu tak acuh pada bencana menimpa

bangsa karena asyik mendandani penampilan selebriti diri sendiri. Saya

sangat heran. Sungguh memuakkan.

Kalimat bersayap mereka adalah, "This is my body. I’ll do whatever I like

with my body." "Ini tubuhku. Aku akan lakukan apa saja yang aku suka dengan

tubuhku ini."

Congkaknya luar biasa, seolah-olah tubuh mereka itu ciptaan

mereka sendiri, padahal tubuh itu pinjaman kredit mencicil dari Tuhan, Cuma

satu tingkat di atas sepeda motor Jepang dan Cina yang diobral di iklan

koran-koran.

Mereka tak ada urusan dengan Maha Produser Tubuh itu. Penganjur masyarakat

permissif di mana pun juga, tidak suka Tuhan dilibatkan dalam urusan.

Percuma bicara tentang moral dengan mereka.

Dengan ringan nama Tuhan dipermainkan dalam karya.

Situasi kita kini merupakan riak-riak gelombang

dari jauh itu, dari abad 20 ke awal abad 21 ini, advokatornya dengan

semangat dan stamina mirip anak-anak remaja bertopi beisbol yang selalu

meniru membeo apa saja yang berasal dari Amerika Utara itu.

Penutup

Ciri kolektif seluruh komponen Gerakan Syahwat Merdeka ini adalah budaya

malu yang telah kikis nyaris habis dari susunan syaraf pusat dan rohani

mereka, dan tak adanya lagi penghormatan terhadap hak penggunaan kelamin

orang lain yang disabet-dicopet-dikorupsi dengan entengnya.

Tanpa memiliki hak penggunaan kelamin orang lain, maka sesungguhnya Gerakan Syahwat Merdeka

adalah maling dan garong genitalia, berserikat dengan alkohol, nikotin dan

narkoba, menjadi perantara kejahatan, mencecerkan HIV-AIDS, prostitusi dan

aborsi, bersuluh bulan dan matahari.

AWAS BAHAYA PORNOGRAFI….

http://web.1asphost.com/assalamaagym/Tragis_betul_nasib_para_koruptor.chm

SELANJUTNYA TERSERAH ANDA…. Baca Koran

Leave a Reply